BAUBAU, SEGMENSULTRA.COM – Tangis haru menyelimuti kehidupan Rohana (59), warga Kelurahan Katobengke, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau. Perempuan yang menggantungkan hidup sebagai pemulung itu diusir dari rumah kontrakan yang telah ditempatinya selama lebih dari tiga tahun karena tidak mampu membayar uang sewa selama lima bulan. Sabtu 4 Juli 2026.
Biaya kontrakan sebesar Rp500 ribu per bulan tidak lagi sanggup dipenuhi setelah penghasilannya terus menurun. Akibat tunggakan tersebut, pemilik rumah meminta Rohana meninggalkan kontrakan yang selama ini menjadi tempat berlindung bersama kedua anaknya.
Seluruh barang milik Rohana kini telah dikeluarkan dan diletakkan di depan pintu rumah kontrakan. Perabot rumah tangga, pakaian, hingga perlengkapan sehari-hari menumpuk di halaman depan. Pemandangan itu menjadi saksi pahit perjuangan seorang ibu yang kini kehilangan tempat tinggal.
Rohana kini hidup bersama dua anaknya yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang seorang ibu, yakni anak perempuan berusia 12 tahun dan anak laki-laki berusia 10 tahun.
Setiap hari, Rohana berjalan menyusuri jalan-jalan di Kota Baubau untuk memungut botol plastik, kardus bekas, kaleng, dan berbagai barang yang telah dibuang warga. Barang-barang tersebut kemudian dijual kepada pengepul demi memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Penghasilan dari memulung sering kali tidak mencukupi kebutuhan makan keluarganya. Dalam kondisi serba terbatas, Rohana harus berjuang agar kedua anaknya tetap bisa bertahan hidup, sementara biaya kontrakan yang terus menumpuk akhirnya membuat dirinya kehilangan tempat berteduh.
Kini Rohana mengaku tidak mengetahui ke mana harus membawa kedua anaknya. Sejak diusir dari rumah kontrakan, ia diliputi kebingungan karena belum memiliki tempat tinggal pengganti.
“Saya bingung mau tinggal di mana bersama anak-anak. Untuk makan saja susah, apalagi membayar kontrakan. Sekarang semua barang saya sudah dikeluarkan dari rumah,” ujar Rohana.
Rohana berharap Pemerintah Kota Baubau, khususnya Wali Kota Baubau, H Yusran Fahim, serta Peran DPRD Kota Baubau dapat melihat langsung kondisi yang dialaminya. Ia berharap ada perhatian agar dirinya bersama kedua anaknya memperoleh tempat tinggal yang layak dan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Ia juga mengaku selama hidup dalam keterbatasan ekonomi belum pernah merasakan bantuan dari pemerintah. Menurut Rohana, kondisi keluarganya selama ini juga jarang mendapat perhatian dari lingkungan setempat.
Keprihatinan terhadap nasib Rohana turut disampaikan tetangganya, La Ode Karim. Ia mengaku menyaksikan sendiri perjuangan Rohana selama bertahun-tahun menghidupi kedua anaknya dari hasil memulung.
“Kasihan sekali ibu Rohana. Saya beberapa kali kasih makanan kalau ada rezeki, tapi saya juga hidup pas-pasan sehingga membantu sesuai kemampuan,” kata Karim.
Karim berharap pemerintah segera turun tangan agar Rohana bersama kedua anaknya tidak terus berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Menurutnya, keluarga kecil itu membutuhkan tempat tinggal yang aman serta bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hingga berita ini ditulis, barang-barang milik Rohana masih berada di depan rumah kontrakan yang selama lebih dari tiga tahun menjadi tempat tinggalnya. Di tengah terik matahari dan ketidakpastian, Rohana bersama kedua anaknya kini menunggu hadirnya kepedulian dari pemerintah maupun masyarakat agar mereka dapat kembali memiliki tempat untuk berteduh.(Adm)
