BerandaNewsBaubauKetua IDI Baubau Ingatkan Bahaya Kabut Asap, Kesehatan Warga Harus Diutamakan

Ketua IDI Baubau Ingatkan Bahaya Kabut Asap, Kesehatan Warga Harus Diutamakan

BAUBAU, SEGMENSULTRA.COM – Kabut asap yang menyelimuti Kota Baubau semakin menebal pada Selasa 13 Oktober 2026. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas udara dan dampaknya bagi kesehatan masyarakat, terutama di tengah berlangsungnya rangkaian perayaan Hari Jadi Baubau ke-485 dan HUT ke-25 sebagai daerah otonom.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Baubau, dr. Hasrida Hamid, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak kabut asap, terutama jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama. Ia menegaskan, kabut asap bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan akibat paparan partikel pencemar di udara.

“Di balik asap yang tampak di udara, ada risiko kesehatan yang perlu dipahami, terutama jika keadaan ini berlangsung terus-menerus,” ujar Hasrida.

Menurut dia, kabut asap mengandung berbagai zat pencemar, termasuk partikel halus PM2,5 yang dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru. Paparan partikel tersebut dapat memicu iritasi dan peradangan serta memperburuk penyakit yang telah diderita seseorang.

Keluhan yang dapat muncul akibat paparan asap antara lain mata perih, iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sakit kepala hingga sesak napas. Bagi penderita asma, asap dapat memicu kekambuhan. Sementara penderita penyakit paru kronis dan penyakit jantung berisiko mengalami perburukan kondisi.

Ketgam: Langit Kota Baubau diselimuti asap

Hasrida menekankan bahwa anak-anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan dan jantung perlu mendapat perhatian khusus. Paru-paru anak masih berkembang dan aktivitas mereka di luar ruangan berpotensi meningkatkan paparan polusi udara. Adapun lansia dan penderita penyakit kronis lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang buruk.

Kekhawatiran tersebut juga berkaitan dengan berbagai kegiatan perayaan Hari Jadi Baubau ke-485 dan HUT ke-25 sebagai daerah otonom. Sejumlah agenda, seperti expo, pertandingan olahraga, perlombaan, kegiatan budaya dan aktivitas masyarakat lainnya, berlangsung di ruang terbuka.

Hasrida mengingatkan penyelenggara kegiatan, pihak sekolah dan masyarakat agar mempertimbangkan kondisi kualitas udara sebelum melaksanakan aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik berat.

Menurut dia, olahraga memang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, ketika seseorang berolahraga, frekuensi dan kedalaman pernapasan meningkat sehingga lebih banyak udara masuk ke paru-paru, termasuk partikel pencemar yang terkandung di dalamnya.

“Jika kualitas udara buruk, paparan polutan meningkat dan risiko batuk, iritasi, sesak napas serta gangguan kesehatan lainnya ikut membesar,” jelasnya.

Karena itu, ia menyarankan agar olahraga berat di luar ruangan, seperti berlari, bersepeda dan senam, ditunda atau dipindahkan ke tempat dengan udara yang lebih bersih ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, khususnya saat kabut asap pekat.

Ia menegaskan, kegiatan perayaan tetap dapat berlangsung dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan masyarakat dan hasil pemantauan kualitas udara.

Untuk mengurangi risiko paparan asap, Hasrida mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut masih pekat. Jika tidak ada keperluan mendesak, masyarakat disarankan tetap berada di dalam ruangan.

Apabila harus keluar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat karena mampu menyaring partikel halus lebih baik dibandingkan masker medis biasa.

Masyarakat juga diminta menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela ketika asap pekat, menggunakan penyaring udara jika tersedia, serta menghindari aktivitas yang menambah pencemaran, seperti merokok dan membakar sampah.

Perlindungan terhadap kelompok rentan juga perlu ditingkatkan. Orang tua diminta membatasi aktivitas anak di luar ruangan, sementara ibu hamil, lansia dan penderita penyakit kronis perlu mengurangi paparan asap selama kualitas udara belum membaik.

Selain itu, masyarakat dianjurkan menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan dan beristirahat. Namun, upaya tersebut tidak dapat menggantikan langkah utama untuk mengurangi paparan polusi udara.

Hasrida juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Batuk yang semakin parah, napas berbunyi atau sesak napas perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Penderita penyakit kronis harus tetap menggunakan obat sesuai anjuran dokter.

Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada atau penurunan kesadaran, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis darurat.

Di sisi lain, ia mendorong masyarakat untuk memantau informasi kualitas udara melalui BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan dan instansi terkait. Menurutnya, ketebalan kabut dan berkurangnya jarak pandang tidak cukup untuk memastikan tingkat pencemaran udara sehingga diperlukan hasil pengukuran kualitas udara.

Ia berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait meningkatkan pemantauan dan menyampaikan informasi kualitas udara secara berkala. Data tersebut penting menjadi dasar dalam mempertimbangkan pelaksanaan maupun penyesuaian kegiatan sekolah, olahraga, perlombaan dan berbagai acara masyarakat di ruang terbuka.

Tenaga kesehatan juga diharapkan terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko paparan kabut asap dan langkah-langkah pencegahannya.

Hasrida mengingatkan, kabut asap berpotensi bertahan atau kembali menebal selama sumber asap masih ada dan kondisi angin mendukung penyebarannya ke wilayah Baubau. Karena itu, kewaspadaan perlu terus dijaga sampai kualitas udara kembali membaik.

Di tengah kemeriahan perayaan hari jadi kota, ia mengajak seluruh pihak menempatkan kesehatan warga sebagai perhatian utama.

“Kita memang tidak dapat mengendalikan arah angin atau menghentikan asap dari wilayah lain. Namun, kita masih bisa mengurangi dampaknya, dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar,” pesannya.

Ia berharap kabut asap segera berlalu, langit Baubau kembali cerah dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman tanpa dibayangi risiko kesehatan akibat pencemaran udara.(Adm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berapakah 7 + 6 ?

Iklan

Berita Populer