WAKATOBI, SEGMENSULTRA.COM – Bupati Wakatobi, Haliana, menghadiri agenda kolaborasi internasional di Okinawa, Jepang, setelah mendapat undangan dari RIHN Linkage Project untuk membahas penelitian dan pembangunan berkelanjutan berbasis keterhubungan ekosistem darat dan laut.
Kegiatan bertajuk Bridging Land and Sea Linkage Toward a Sustainable Future of Reef Islands tersebut merupakan kolaborasi penelitian lintas negara yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Wakatobi bersama Universitas Halu Oleo dan Universitas Padjadjaran.
Dalam proyek penelitian tersebut, hanya dua negara yang menjadi lokasi kajian, yakni Wakatobi di Indonesia dan Rakiraki di Fiji.
Delegasi Wakatobi dipimpin langsung oleh Bupati Haliana, didampingi Sekretaris Daerah, Kepala Bappeda, dan Kepala Dinas Pariwisata. Selama tiga hari, 25-27 Oktober 2026, delegasi mengikuti tiga agenda utama, yakni simposium internasional, workshop diseminasi hasil penelitian, serta audiensi dengan Presiden Universitas Ryukyu, Jepang.
Pada simposium internasional, Haliana menjadi salah satu narasumber dengan membawakan materi berjudul Conserving Ecosystems and Water Crisis Challenges in Wakatobi. Materi tersebut mengangkat upaya konservasi ekosistem serta tantangan krisis air di Wakatobi.
Sementara itu, dalam workshop internasional, para peneliti dan delegasi membahas berbagai temuan penelitian sekaligus merumuskan isu dan rekomendasi penting bagi pembangunan berkelanjutan di wilayah kepulauan.
Dalam kesempatan tersebut, Haliana menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan budaya dengan memperhatikan nilai serta risiko.

“Ada dua sisi mendasar yang harus diperhatikan sebagai basis etika hubungan manusia, alam, dan budayanya, yaitu nilai dan risiko. Bila kita abai dalam menjaga nilai (value), maka kita akan rentan terpapar risiko (risk),” ujar Haliana.
Ia juga menyinggung kehidupan masyarakat Jepang yang menerapkan prinsip Seiri (ringkas), Seiton (rapi), Seiso (bersih), Seiketsu (terjaga), dan Shitsuke (disiplin) sebagai pelajaran penting dalam membangun kesadaran menjaga lingkungan dan kehidupan.
Haliana turut menyampaikan posisi strategis Wakatobi dalam kolaborasi internasional serta peluang kerja sama jangka panjang. Ia berharap Wakatobi dapat dikembangkan menjadi pusat keunggulan atau center of excellence bagi berbagai penelitian internasional.
Menurutnya, RIHN Linkage Project saat ini juga tengah mempersiapkan fase kedua atau Project Phase 2. Wakatobi diharapkan kembali menjadi salah satu lokasi penelitian dalam kelanjutan proyek tersebut.
“Nilai utama dari kerja sama riset ini sesungguhnya diilhami cara pandang ekosistem yang mengedepankan pentingnya keterhubungan (linkage) eco-biocultural antara darat dan laut, budaya dan manusia, masa kini dan masa depan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi tersebut dilandasi filosofi Kaizen yang menekankan pentingnya kesadaran kolektif dan kerja sama global untuk menjaga keberlanjutan bumi serta kehidupan manusia melalui kebijakan berbasis bukti dan data (evidence-based policy).
Menutup penyampaiannya, Haliana memperkenalkan kearifan lokal masyarakat Wakatobi yang mendapat apresiasi dari para delegasi internasional, yakni ungkapan “Ara Anne’e Tei” yang bermakna menjaga sesuatu ketika masih berlimpah.
“Semua hal berharga yang kita miliki hari ini akan segera menjadi masa lalu bila kita tidak serius merawatnya untuk dibawa ke masa depan. Filosofi sederhana namun mendalam yang dibagikan sebagai kearifan lokal masyarakat Wakatobi adalah Ara Anne’e Tei, dijaga ketika masih berlimpah, atau Save it when we still have plenty,” tutup Haliana.(Adm)
