BAUBAU, SEGMENSULTRA.COM – Sore itu, matahari masih hangat menyorot jalan utama Kelurahan Bataraguru, Kecamatan Wolio, Kota Baubau. Kendaraan bermotor melintas hilir mudik di atas jalan aspal yang mulus di depan lapangan kecil jembatan Beli, warga di sini menyebutnya Jembel. Di sisi jalan itu, sebidang tanah merah berukuran 10 x 15 meter jadi arena permainan anak anak. Debu tipis beterbangan setiap kali kaki kaki kecil mereka menghentak lapangan, mengejar bola plastik berwarna biru yang meliuk di antara mereka.
Lapangan itu hanya sebidang tanah merah. Tak ada rumput, tak ada garis lapangan. Di tepinya, sebuah kali mengalir tenang, dikenal sebagai Kali Ambon, yang namanya tertera jelas di papan peringatan kecil bertuliskan: “Dilarang mandi di Kali Ambon. Waspada buaya.”
Namun, semua peringatan, debu, bahkan deru kendaraan yang lalu-lalang tak mengusik riang mereka. “Gol! Gol!” teriak seorang bocah paling besar dengan napas tersengal, diikuti sorak tawa teman temannya. Di tengah keterbatasan, kebahagiaan justru terasa diantara mereka.
Anak anak itu datang dari rumah rumah padat yang berderet tak jauh dari jembatan. Ada yang mengenakan kaus robek yang sudah lusuh, ada yang bertelanjang kaki, ada pula yang mengenakan celana panjang. Semuanya berbaur, berlari mengejar bola plastik ringan yang sesekali melambung ke luar lapangan, dikejar sambil tertawa cekikikan.
“Bola ini cuma sepuluh ribu rupiah,” kata Rafi, bocah kelas 4 SD sore itu. “Tapi ini sudah bikin kita senang. Kalau pecah ya beli lagi. Kadang pakai bola yang sudah tambal-tambalan.”
Bola plastik ringan itu berputar seperti mimpi kecil mereka terbang rendah di atas tanah merah, jatuh di antara kaki kaki kecil, lalu kembali ke tengah sorak yang riuh.
Menariknya, lapangan itu tidak hanya milik mereka. Di sudut lain, dua ibu ibu berjilbab tampak sibuk memainkan bulu tangkis di atas garis imajiner yang mereka buat sendiri. Raket mereka sesekali menyambar shuttlecock, kadang melambung tak terkendali karena tiupan angin yang datang dari arah kali.
“Daripada nonton saja, mending ikut main,” ujar salah satu ibu sambil tertawa kecil, sebelum melanjutkan permainan meski kadang harus berhenti memberi jalan pada bola plastik yang melintas di tengah lapangan.
Permainan anak anak dan ibu ibu itu berjalan berdampingan, tak pernah benar benar mengganggu. Sesekali anak anak berhenti, menonton sejenak, lalu kembali berlarian mengejar bola. Ada harmoni tak tertulis di sana, seolah lapangan kecil itu menjadi satu satunya ruang mereka untuk berbagi sore.
Di tepi lapangan, Kali Ambon mengalir dengan suara gemericik pelan. Airnya kecokelatan, dasar sungainya tak terlihat jelas. Papan larangan di sana mengingatkan siapa pun untuk berhati-hati: “Waspada, kadang ada buaya.”
Warga sekitar sudah terbiasa dengan peringatan itu. “Biasanya buaya muncul malam atau waktu hujan deras,” kata seorang pria tua yang duduk di bangku dekat jembatan sambil merokok. “Anak-anak di sini sudah dibilang, jangan sampai main sampai ke pinggir kali.”
Meski begitu, suara air kali tetap menjadi latar yang menenangkan bagi tawa anak anak di atas tanah lapang. Seperti memberi ritme pada kehidupan kecil mereka yang sederhana namun penuh warna.
Jembel hanyalah sebuah sudut kecil di kota Baubau yang sering terabaikan. Namun di sana, pada lapangan debu yang cuma sebesar ruang tamu dua rumah, tawa dan mimpi mimpi anak anak tumbuh bersama hembusan angin sore.
Mereka belajar tentang kebersamaan dari bola plastik yang ringan, tentang keberanian dari papan larangan di pinggir kali, dan tentang kebahagiaan dari sorakan sederhana teman teman sebaya.
Ketika matahari mulai condong, debu semakin tebal terangkat sepatu dan sandal. Namun suara tawa itu belum berhenti. Di pinggir jembatan Beli, di lapangan kecil berdebu yang mereka sebut rumah kedua, anak-anak kecil itu terus berlari, menendang mimpi mereka setinggi mungkin.
Karena bagi mereka, dunia cukup luas selama ada satu bola plastik, satu lapangan tanah merah, dan satu alasan untuk tetap tertawa.(Adm)
